BAB IV
PEMBAHASAN
A. Pengertian Hiperemesis Gravidarum
Hyperemesis gravidarum adalah mual muntah yang berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk karena terjadi dehidrasi (Mochtar, 1998).
Melalui muntah dikeluarkan sebagian cairan lambung elektrolit, natrium, kalium dan kalsium. Penurunan kalium akan menambah berat badannya muntah sehingga makin berkurang kalium dan keseimbangan tubuh serta makin menambah berat terjadinya muntah.
Muntah yang berlebihan menyebabkan cairan tubuh makin berkurang sehingga darah menjadi kental (hemokonsentrasi) yang dapat memperlambat peredaran darah yang berarti konsumsi O2 dan makanan ke jaringan berkurang, kekurangan makanan dan O2 ke jaringan dapat menambah beratnya keadaan janin dan wanita hamil.
B. Penyebab
Kejadian hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti, tetapi beberapa faktor predisposisi dapat djabarkan sebagai berikut :
1. Faktor predisposisi dan hormonal
Pada wanita hamil yang kekurangan darah lebih sering terjadi hiperemesis gravidarum. Dapat dimasukkan dalam ruang lingkup faktor adaptasi adalah wanita hamil dengan anemia. Wanita primigravida dan hamil mola hidatidosa. Sebagian kecil primigravida belum mampu beradaptasi terhadap hormon estrogen dan khorionik gonadhotropin. Sedangkan pada hamil ganda dan mola hidatidosa jumlah hormon yang dikeluarkan terlalu tinggi dan menyebabkan hiperemesis gravidarum.
2. Faktor psikologis
Hubungan faktor psikologis dengan kejadian hiperemesis gravidarum belum jelas. Besar kemungkinan bahwa wanita menolak hamil, takut kehilangan pekerjaan, keretakan hubungan dengan suami dan sebagainya diduga dapat menjadi faktor kejadian hiperemesis gravidarum. Dengan perubahan suasana dan masuk rumah sakit penderitaanya dapat berkurang sampai menghilang.
3. Faktor alergi
Pada kehamilan, dimana diduga terjadi invansi jaringa villi khorealis yang masuk kedalam peredaran darah ibu, maka faktor alergi dianggap dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum.
4. Faktor endokrin misalnya seperti hipertiroid, diabetes dan lain-lain.
C. Gejala klinis
Sekalipun batas antara muntah yang fisiologis dan patologis tidak jelas, tetapi muntah menimbulkan gangguan kehidupan sehari-hari dan dehidrasi memberikan petunjuk bahwa wanita hamil telah memerlukan penanganan yang intensif.
Gambaran gejala hyperemesis gravidarum secara klinis dapat dibagi menjadi tiga tingkat :
1. Hyperemesis gravidarum tingkat pertama
a) Muntah berlangsung terus menerus
b) Makan berkurang
c) Berat badan menurun
d) Kulit dehidrasi-tonusnya lemah
e) Nyeri didaerah epigastrium
f) Tekanan darah turun dan nadi meningkat
g) Lidah kering
h) Mata tampak cekung
2. Hyperemesis gravidarum tingkat kedua
a) Penderita tampak lebih lemah
b) Gejala dehidrasi makin tampak mata cekung
c) Tekanan darah turun dan nadi meningkat
d) Berat badan makin menurun
e) Mata ikterik
f) Gejala hemokonsentrasi makin tampak
g) Gangguan buang air besar
h) Nafas berbau aseton
3. Hyperemesis gravidarum tingkat ketiga
a) Muntah berkurang
b) Keadaan umum wanita makin menurun tekanan darah turun
c) Nadi meningkat dan suhu naik
d) Gangguan faal hati terjadi pada manifestasi ikterus
e) Gangguan kesadaran dalam bentuk samnolen atau koma
D. Diagnosis
Menetapkan kejadian hyperemesis gravidarum tidak sukar dengan menentukan kehamilan, muntah yang berlebihan sampai menimbulkan gangguan kehidupan sehari-hari dan dehidrasi. Muntah terus menerus tanpa pengobatan dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang janin dalam rahim dengan manifestasi kliniknya. Oleh karena itu, hyperemesis gravidarum berkelanjutan harus dapat dicegah dan harus mendapat penanganan adekuat.
Kemungkinan penyakit lain yang menyertai kehamilan harus berkonsultasi dengan dokter misalnya penyakit hati, ginjal dan penyakit tukak lambung. Pemeriksaan laboratorium dapat membedakan ketiga kemungkinan hamil yang disertai penyakit.
E. Patologi
Dari otopsi wanita yang meninggal karena hyperemesis gravidarum, diperoleh keterangan bahwa terjadi kelainan pada organ tubuh sebagai berikut:
1. Hepar, pada tingkat ringan hanya ditemukan degenerasi lemak sentrilobuler tanpa nekrosis.
2. Jantung, menjadi lebih kecil daripada biasa dan berat atrofi. Ini sejalan dengan lamanya penyakit kadang-kadang ditemukan perdarahan sub-endokardial.
3. Otak, terdapat bercak perdarahan pada otak.
4. Ginjal, tampak pucat degenerasi lemak tubuli kontorti.
F. Penanganan
Konsep penanganan hiperemesis gravidarum yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
1. Isolasi dan pengobatan psikologis
Dengan melakukan isolasi di ruangan sudah dapat meringankan wanita hamil karena perubahan suasana dari lingkungan rumah tangga. Petugas dan berkomunikasi serta memberikan informasi dan edukasi mengenai berbagai masalah yang berkaitan dengan kehamilan.
2. Pemberian cairan pengganti
Dalam keadaan darurat diberikan cairan pengganti sehingga keadaan dehidrasi dapat diatasi, cairan pengganti yang diberikan adalah glukosa 5-10% dengan keuntungan dapat mengganti cairan yang hilang dan berfungsi sebagai sumber lemak dan protein menuju kearah pemecahan glukosa, dalam cairan dapat ditambah dengan vitamin B kompleks atau kalium yang diperlukan untuk keseimbangan cairan yang masuk dan keluar melalui kateter, nadi, tekanan darah, suhu dan pernafasan. Lancarnya pengeluaran urin memberikan petunjuk bahwa keadaan wanita hamil berangsur-angsur membaik.
Pemeriksaan yang perlu dilakukan dara, urin dan bila mungkin fungsi hati dan ginjal. Bila keadaan muntah berkurang, kesadaran membaik, wanita hamil dapat diberikan makan, minum dan mobilisasi.
3. Obat yang diberikan
Memberikan obat pada pasien hiperemesis gravidarum sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sehingga dapat dipilih obat yang baik yang tidak bersifat teratogenik (dapat menyebabkan kelaian kogenital cacat bawaan bayi).
a) Sedatif ringan : phenobarbital (luminal) 30 mg, valium.
b) Anti alergi : anti histamin, pramamin, avomin.
c) Obat anti mual muntah : mediamer B6, emerole, stimetil, avopreg.
4. Menghentikan kehamilan
Pada beberapa kasus pengobatan hiperemesis gravidarum tidak berhasil malah terjadi kemunduran dan keadaan semakin menurun sehingga dilakukan pertimbangan untuk melakukan gugur kandung. Keadaan yang memerlukan pertimbangan gugur kandung diantaranya :
a) Gangguan jiwa
1) Delirium
2) Apatis, samnolen hingga koma
3) Terjadi gangguan jiwa ensekfalopati wernickle
b) Gangguan penglihatan
1) Perdarahan retina
2) Kemunduran penglihatan
c) Gangguan faal
1) Hati ikterus
2) Ginjal dalam bentuk anuria
3) Jantung, pembuluh darah, nadi meningkat
4) Tekanan darah menurun
DAFTAR PUSTAKA
Ida Bagus Gde Manuaba.1998. “Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan”. Jakarta : EGC.
Mouchtar Rustam. 1998. “Sinopsis Obstetri”. Jakarta : EGC.
Prawiroharjo Sarwono. 2005. “lmu kebidanan”. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar